Jika ditanya pewaris pemikiran Muhammad Natsir, Seorang
Tokoh Intelektual islam yang paling popular di akhir orde lama dan
di awal orde baru itu mayoritas orang Indonesia akan mengatakan ialah Seorang
Yusril Ihza Mahendra, terpaut umur yang cukup jauh namun Yusril memiliki
kesempatan yang luar biasa ketika di akhir senja usia seorang Muhammad Natsir
memiliki hubungan yang cukup intens dengan seorang Yusril Ihza Mahendra yang
kala itu adalah seorang Mahasiswa Universitas Indonesia yang mengekost di kost
seorang Tokoh Besar Masyumi.
Sepak terjang Politik Muhammad Natsir bukanlah seorang
politisi biasa, ia adalah politisi yang berjenis kelamin, jelas akan sikap
politiknya tidak mudah terombang ambing, ia perjuangkan islam hingga akhir
hayatnya, sekali berkata tidak ia akan sulit untuk merevisi ketetapanya.
Di awal karir politik Yusril Ihza Mahendra sebenarnya sudah
membuktikan bahwa yusril sebenarnya adalah orang yang mudah berkomromi dengan
hal hal yang sebenarnya bertentangan denganya, sebagaimana yang yusril
ceritakan di beberapa unggahan videonya, ketika ia mahasiswa ia pernah membakar
foto pak harto ketika melakukan aksi perlawanan, namun ketika lulus kuliah
yusril menerima tawaran sebagai Staff Mensesneg di
Istana yang di pimpin pak harto, walaupun memang ia memiliki beberapa alasan
alasan yang kuat, namun dari cerita itu kita dapat melihat inkonsistensi yusril
di dalam bersikap.
Namun jangan ditanya soal pemikiran, apa yang yusril
paparkan sama percis dengan apa yang di perjuangan Muhammad Natsir, bahkan satu
satunya partai di Indonesia yang secara explisit menuliskan
istilah syariat islam di dalam perjuanganya adalah Partai Bulan Bintang (PBB)
dan yang lebih mengagumkan AD/ART Partai Bulan Bintang sama sama dengan AD/ART
Partai Masyumi, selain pemikiran yang serupa, visi partai yang serupa, maka
semua bersepakat mengatakan yusril adalah anak ideologis Muhammad Natsir, yang
membedakan mereka adalah Konsistensi dan Inkonsistensi,
Natsir Konsisten dengan
apa yang diperjuangkan hingga akhir hayat, sedang yusril terlalu mudah
berkompromi dengan hal apapun.
Yang lebih mencengangkan adalah ketika perseteruan dengan
pimpinan ormas Front Pembela Islam (FPI) terhadap sikap Capres prabowo terhadap
Islam, Yusril mengatakan Prabowo tak tahu menahu soal islam dan keislaman
prabowo di ragukan kalimat itu ia dapat dari whatsapp Riziq
Syihab, namun di dalam video unggahan Front TV Habib
Riziq Membantah semua pernyataan Yusril.
Natsir adalah intelektual yang menghargai para ulama, tidak
menjual nama ulama untuk sebuah kepentingan politik, jika memang pada waktu itu
natsir menginginkan jabatan atau minimal natsir mau berkompromi dengan hal hal
yang bertentangan dengan dirinya, maka kita pasti tau natsir akan
mendapatkan posisi posisi besar dan lama di pemerintahan orde baru, namun
natsir adalah orang yang konsisten dengan apa yang telah ia gariskan dan
perjuangkan.
Yusril sang anak ideologis itu kini tak lagi ideologis.
