Senin, 22 April 2019

YUSRIL BUKAN NATSIR

0 comments


            
Jika ditanya pewaris pemikiran Muhammad Natsir, Seorang Tokoh Intelektual islam yang paling popular di akhir  orde lama dan di awal orde baru itu mayoritas orang Indonesia akan mengatakan ialah Seorang Yusril Ihza Mahendra, terpaut umur yang cukup jauh namun Yusril memiliki kesempatan yang luar biasa ketika di akhir senja usia seorang Muhammad Natsir memiliki hubungan yang cukup intens dengan seorang Yusril Ihza Mahendra yang kala itu adalah seorang Mahasiswa Universitas Indonesia yang mengekost di kost seorang Tokoh Besar Masyumi.


Sepak terjang Politik Muhammad Natsir bukanlah seorang politisi biasa, ia adalah politisi yang berjenis kelamin, jelas akan sikap politiknya tidak mudah terombang ambing, ia perjuangkan islam hingga akhir hayatnya, sekali berkata tidak ia akan sulit untuk merevisi ketetapanya.


Di awal karir politik Yusril Ihza Mahendra sebenarnya sudah membuktikan bahwa yusril sebenarnya adalah orang yang mudah berkomromi dengan hal hal yang sebenarnya bertentangan denganya, sebagaimana yang yusril ceritakan di beberapa unggahan videonya, ketika ia mahasiswa ia pernah membakar foto pak harto ketika melakukan aksi perlawanan, namun ketika lulus kuliah yusril menerima tawaran sebagai Staff Mensesneg di Istana yang di pimpin pak harto, walaupun memang ia memiliki beberapa alasan alasan yang kuat, namun dari cerita itu kita dapat melihat inkonsistensi yusril di dalam bersikap.


Namun jangan ditanya soal pemikiran, apa yang yusril paparkan sama percis dengan apa yang di perjuangan Muhammad Natsir, bahkan satu satunya partai di Indonesia yang secara explisit menuliskan istilah syariat islam di dalam perjuanganya adalah Partai Bulan Bintang (PBB) dan yang lebih mengagumkan AD/ART Partai Bulan Bintang sama sama dengan AD/ART Partai Masyumi, selain pemikiran yang serupa, visi partai yang serupa, maka semua bersepakat mengatakan yusril adalah anak ideologis Muhammad Natsir, yang membedakan mereka adalah Konsistensi dan Inkonsistensi, Natsir Konsisten dengan apa yang diperjuangkan hingga akhir hayat, sedang yusril terlalu mudah berkompromi dengan hal apapun.


Yang lebih mencengangkan adalah ketika perseteruan dengan pimpinan ormas Front Pembela Islam (FPI) terhadap sikap Capres prabowo terhadap Islam, Yusril mengatakan Prabowo tak tahu menahu soal islam dan keislaman prabowo di ragukan kalimat itu ia dapat dari whatsapp Riziq Syihab, namun di dalam video unggahan Front TV Habib Riziq Membantah semua pernyataan Yusril.


Natsir adalah intelektual yang menghargai para ulama, tidak menjual nama ulama untuk sebuah kepentingan politik, jika memang pada waktu itu natsir menginginkan jabatan atau minimal natsir mau berkompromi dengan hal hal yang bertentangan dengan dirinya, maka kita pasti tau natsir akan mendapatkan posisi posisi besar dan lama di pemerintahan orde baru, namun natsir adalah orang yang konsisten dengan apa yang telah ia gariskan dan perjuangkan.

Yusril sang anak ideologis itu kini tak lagi ideologis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar