Pilpres Tahun ini
adalah pilpres yang paling banyak menghabiskan energi rakyat Indonesia selain
kucuran dana triliyunan hanya untuk pemilu yang tak sebanding dengan kualitas
pemimpin, energi bangsa pun terkuras habis oleh debat debat nonsubstantif dan kelak menjadi jejak
tuk penerus bangsa, huh memalukan!
Melihat media social akhir akhir
ini memuat kita ingin muntah, kedua paslon dan timses menggunakan setandar
ganda di dalam mereka berbicara dan bertindak, kelihatan ngibul sedari janjipun
mereka tidak lagi manis.
yang menyedihkan adalah ketika umat
islam di seret secara paksa berada dalam pusaran politik pemilihan presiden
ini, ada istilah cebong – kampret yang kemudian menjadi kosa kata umum di dalam
percakapan politik hari hari, ada semacam dikotomi pengelompokan antara
pendukung komunis dan pendukung khilafah di dalam diskusinya, yang sebenarnya
keduanya sama sama tidak menunjukan fakta menyebalkan memang.
Peran agama di dalam pilpres ini memang
tidak sedominan ketika pilkada DKI Jakarta 2017, namun sisa sisa pendukungnya
tetap bringas dari kedua kubu, dalam tulisan ini saya spesifikasi mengkritik
pendukung pak Prabowo dan Pak Sandi, oknum pendukung mereka luar biasa bringas terutama
di media social, dikit dikit bicara “Bong” “Bong” “Bong” tanpa mengedepankan
diskusi, sedikit aja bicara kebaikan petahana “ah dasar lu bong” yailah seolah
dimata mereka semua pendukung jokowi adalah dungu dan tidak berakal sehat serta
beriman rendah.
Ustadz Yusuf Mansur tak lepas dari
cercaan mereka, “Dasar Ustadz penjilat, Uninstall Paytren, dll” Tuan Guru
Bajang Ulama besar, anak dari ulama yang juga besar, pengalaman dua tahun
memimpin NTB dengan sangat luar biasa, penerapan sayriah dalam urusan perdata
berjalan baik di NTB, pun masih tak lepas dari cercaan mereka, Yusril Ihza
Mahendra, professor hukum tata negara ini tak juga luput dari fanatisme buta
pendukung 02 ini, Yusril Tukang Bohong, raja Bohong, penjilat.
Padahal jika kita telaah secara
tajam apa yang mereka bertiga lakukan untuk kebaikan umat jauh lebih besar dari
apa yang dilakukan pak prabowo dan bang sandi untuk umat, tapi mereka tak
pernah berpikir sedikit lebih jernih.
Belajarlah hentikan cacian dan
mulailah bicara dan mengerti tetang sebuah keputusan yang di ambil, mereka
semua adalah tokoh islam yang telah mengucurkan keringat dan lebih dari separuh
waktunya untuk kebaikan umat.
Berhentilah sejenak dan mulailah
mengerti akan esensi sebuah perbedaan, sebab Fanatisme itu racun, racun yang merusak cara berpikir yang jernih
