Sabtu, 06 April 2019

Jangankan Ulama, Malaikat mendukung Jokowi-pun akan mereka salahkan

0 comments


Pilpres Tahun ini adalah pilpres yang paling banyak menghabiskan energi rakyat Indonesia selain kucuran dana triliyunan hanya untuk pemilu yang tak sebanding dengan kualitas pemimpin, energi bangsa pun terkuras habis oleh debat debat nonsubstantif dan kelak menjadi jejak tuk penerus bangsa, huh memalukan!

Melihat media social akhir akhir ini memuat kita ingin muntah, kedua paslon dan timses menggunakan setandar ganda di dalam mereka berbicara dan bertindak, kelihatan ngibul sedari janjipun mereka tidak lagi manis.

yang menyedihkan adalah ketika umat islam di seret secara paksa berada dalam pusaran politik pemilihan presiden ini, ada istilah cebong – kampret yang kemudian menjadi kosa kata umum di dalam percakapan politik hari hari, ada semacam dikotomi pengelompokan antara pendukung komunis dan pendukung khilafah di dalam diskusinya, yang sebenarnya keduanya sama sama tidak menunjukan fakta menyebalkan memang.

Peran agama di dalam pilpres ini memang tidak sedominan ketika pilkada DKI Jakarta 2017, namun sisa sisa pendukungnya tetap bringas dari kedua kubu, dalam tulisan ini saya spesifikasi mengkritik pendukung pak Prabowo dan Pak Sandi, oknum pendukung mereka luar biasa bringas terutama di media social, dikit dikit bicara “Bong” “Bong” “Bong” tanpa mengedepankan diskusi, sedikit aja bicara kebaikan petahana “ah dasar lu bong” yailah seolah dimata mereka semua pendukung jokowi adalah dungu dan tidak berakal sehat serta beriman rendah.

Ustadz Yusuf Mansur tak lepas dari cercaan mereka, “Dasar Ustadz penjilat, Uninstall Paytren, dll” Tuan Guru Bajang Ulama besar, anak dari ulama yang juga besar, pengalaman dua tahun memimpin NTB dengan sangat luar biasa, penerapan sayriah dalam urusan perdata berjalan baik di NTB, pun masih tak lepas dari cercaan mereka, Yusril Ihza Mahendra, professor hukum tata negara ini tak juga luput dari fanatisme buta pendukung 02 ini, Yusril Tukang Bohong, raja Bohong, penjilat.
Padahal jika kita telaah secara tajam apa yang mereka bertiga lakukan untuk kebaikan umat jauh lebih besar dari apa yang dilakukan pak prabowo dan bang sandi untuk umat, tapi mereka tak pernah berpikir sedikit lebih jernih.

Belajarlah hentikan cacian dan mulailah bicara dan mengerti tetang sebuah keputusan yang di ambil, mereka semua adalah tokoh islam yang telah mengucurkan keringat dan lebih dari separuh waktunya untuk kebaikan umat.

Berhentilah sejenak dan mulailah mengerti akan esensi sebuah perbedaan, sebab Fanatisme itu racun, racun yang merusak cara berpikir yang jernih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar