Kita
tak pernah tau kemana hidup mengantar kita ke tempat tempat yang tak pernah
kita bayangkan sebelumnya, Per lulus kuliah saya memutuskan untuk belum lanjut
kuliah di S-2 walaupun kedua orang tua memaksa, sederhana sebetulnya saya ingin
mencoba hidup dengan hasil keringat saya sendiri merasakan pahit manisnya
kehidupan paling tidak setahun ini, cerita soal itu akan saya tulis di lain
lapak, khusus tulisan ini saya ingin membahas soal sawit dan korporasinya.
Sebagai
lulusan yang memiliki nilai yang cukup lumayan, beberapa perusahaan yang memiliki
hubungan dengan kampus menawarkan kerja di perusahaanya, dimulai dari
perusahaan Finance, Asuransi hingga
Perkebunan sawit, sedari sadar saya memang tak ingin dan tak berminta bekerja
di perusahaan yang bergerak di bidang keuangan baik itu bank, asuransi, leasing, dan lain sebagainya, tapi saya cukup
tertarik di perkebunan sawit, tawaran itu datang dari PT. Wilmar Internasional
sebuah perusahaan Singapur yang bergerak dibidang perkebunan juga perminyakan
salah satu perusahaan minyak raksasa di asia tenggara.
Panggilan
itu datang lewat Telfon dibulan September 2018, saya berdasarkan rekomendasi
kampus menjadi salah satu lulusan yang di panggil diperusahaan itu, interview
pun terjadi, beberapa soal berkaitan dengan hukum dan perundang undangan cukup
mampu saya jawab, sedari UU BPJS, UU Ketenagakerjaan, UU Penyelesaian
Industrial, Dll.
Akhirnya
percakapan-pun sampai pada penempatan, mereka membutuhkan PGA (Personalia
General Affair) di PT. ANI sebuah perkebunan Diwilayah Pahuman, Kab. Landak,
Mendengar penempatan saya cukup ragu, prihal ibadah dan makan yang sulit, karna
saya tau Pahuman adalah wilayah yang 90% berpenduduk Non muslim, berdasarkan pertimbangan tersebut saya menyatakan tidak
siap di tempatkan disana.
Waktu
kembali berlalu, Desember 2018, saya mendapatkan panggilan di sebuah perusahaan
korea PT. Sintang Raya (Miwon Group) dengan posisi yang sama sebagai PGA, pola
interview hampir sama kemudian pembicaraan sampai pada penempatan, saya di
tempatkan di Olak Olak Kubu, Kab. Kubu Raya, Karna penasaran saya yang cukup
tinggi terhadap perusahaan sawit, saya terima pekerjaan itu dan dibuatkan
jadwal untuk berangkat kesana bersama beberapa karyawan reqrutan lainya.
Senin
pagi, Saya (PGA), Mbak Lia (MT), Bang Kayong (Traksi), Pak jawa (Asisten Kebun)
kami semua adalah karyawan baru yang akan diberangkatkan ke kebun, menggunakan
mobil dari kantor menuju pelabuhan Rasau Jaya, disana kami sudah di sambut
perwakilan dari perusahaan dengan sebuah
speedboat berbendera Korea selatan dan Indonesia, kira kira persiapan
setengah jam dan kemudian kami di berangkatkan dengan speedboat dari pelabuhan rasau jaya langung ke perusahaan yang ada
di olak olak kubu, menyenangkan bagi saya yang tak pernah menggunakan speedboat.
Kira
kira satu jam perjalanan kami telah sampai di perusahaan, wajah perkebunan
sawit mulai terlihat truk truk besar dan kapal kapal membawa buah buah sawit
mulai tampak, gersang dan debu menyelimuti jalan jalan, serta sinyal internet
yang hilang.
Turun
dari speedoat, bertemu dengan pak
syarif (keamanan) di wilayah perusahaan tersebut, iseng saya bertanya berapa
banyak keamanan yang ada di perusahaan, beliau menjawab sekitar 400 personil,
wah angka yang sangat besar untuk sebuah perusahaan, selang kemudian kami
diantar ke sebuah mess penyambutan untuk makan siang terlebih dahulu dan sholat
duhur di mushola dekat situ, makanan yang di sediakan menurut saya sangat
sangat nikmat, ikan goreng, sayur asam, sambel dan kerupuk di tambah kami
sedang lapar laparnya membuat makan kami sangat lahap, selepas sholat duhur
kami masih menunggu mobil menjemput kami membawa ke tempat kami yang berbeda
beda, karna kami berempat memang tidak di satu wilayah.
Sebelum
berlanjut urutan cerita, saya akan jelaskan sedikit prihal struktur denah
perusahaan, kantor yang ada di Pontianak bernama kantor HO, sedang kantor utama
atau kantor wilayah ada di PKS di perkebunan, di bawah kantor perkebunan ada
kantor estate, dan di PT. Sintang Raya memiliki 4 wilayah estate, (Ole, Dabong,
Ame, Traksi).
Nah
saya di tempatkan di wilayah Ole, wilayah perkebunan paling luas dan paling
banyak SDM (Sumber Daya Manusia) di perusahaan, setelah makan siang kami
kemudian di jemput masing masing utusan dari kantor, mbak lia dan pak jawa di
jemput oleh perwakilan PKS menggunakan Mobil, sedang bang kayong hanya tinggal
jalan kaki karna rupanya mess penyambutan tak begitu jauh dari kantor traksi,
sedang saya dijemput dengan motor oleh bang jawawi (Staff Gudang) di estate
ole, motor verza dan megapro adalah motor yang menjadi wajib digunakan untuk
oprasional kantor, 20 menit dari mess penyambutan saya sampai di kantor ole
estate, diperjalanan kantor estate saya melewati kantor PKS, disana saya
melihat sebuah kantor yang begitu megah dan pabrik besar dibelakangnya, saya
sempat heran bagaimana mungkin bisa ada kantor sebesar ini di wilayah terpencil
seperti ini.
Sampai
di kantor Ole’ saya berkenalan dengan semua isi kantor, mulai dari Pak Eko
Mardiono (manager), Pak Natsir Hamidun (Askeb), Pak Ari (Assdiv 1), Pak Ian
(Assdiv II), Pak Putu (Assdiv III), Pak Anwar (Assdiv IV) mereka semua adalah
orang orang yang bertanggungjawab atas besar kecilnya produksi di estate ole’
Sedang
di bagian office, ada Pak Edi Johari (Kasie), ada mas Adri (accounting), ada
saya (personalia), ada mbak titin (adm. Computer), bu desi ( adm. Keuangan), bu
yanti (adm. Produksi) juga ada 4 kerani (sekertaris) dan kami semua adalah
orang yang bertanggungjawab atas urusan adminitrasi, baik itu Absensi, SDM,
Gaji, BPJS, Keluhan, panggilan, teguran, mutasi Dan lain sebagainya.
Setelah
berkenalan dengan semua karyawan saya diantar ke mess karyawan kantor, mess
yang cukup bagus bagi saya dengan banyak fasilitas yang bagus, kulkas, tv,
kipas angin, bahkan untuk manager ada AC, baju kami di cucikan dan makan kami
terjaga dan enak, bahkan ditiap siang selalu ada dessert seperti jus, burjo,
agar agar, buah buahan dan lain lain.
Pekerjaan
saya berhubungan dengan nasib banyak orang, gaji, absensi, panggilan, teguran,
dan kesehatan, kerapkali saya memanggil orang, menegur, dan memperingatkan akan
sanksi sanksi yang mereka terima, sebelum bekerja memang banyak suara suara
memperingatkan saya untuk tidak kasar kasar dengan karyawan terutama suara
suara dari karyawan rawat dan karyawan panen (karyawan bawah) tentu suara itu
saya terima dengan baik, toh memang saya tidak punya bakat untuk berbuat kasar dan
keras dengan orang lain.
Keraguan
itu datang ketika saya membuka facebook di sela sela pekerjaan, rupanya di
tahun 2016 ketika saya masih Mahasiswa saya pernah mengomentari atau lebih
tepatnya mengkritik sebuah perusahaan kelapa sawit tentang kriminalisasinya
terhadap warga setempat dan waktu itu memang sedang heboh hebohnya hingga
menarik perhatian warga dunia akibat perampasan hak agrarian warga terhadap perusahaan,
setelah saya dalami ternyata perusahaan tersebut adalah perusahaan yang saya
tempati saat ini.
Disitu
saya sudah merasa terbebani secara moral saya menjilat ludah saya sendiri dari
mengkritik hingga menempati posisi di perusahaan tersebut, di tambah lagi
cerita cerita menyedihkan karyawan karyawan yang di dzalimi perusahaan, target
yang berat dan upah yang tak sesuai menjadi perbincangan hari hari, kesalahan
sedikit yang kemudian mendapat sanksi yang besar, di situ posisi saya sudah merasa
sangat sangat tidak enak, terutama terhadap diri saya sendiri dan beban moral
yang tinggi, saya seorang sarjana hukum yang seharusnya menjadi bagian dari
yang membantu dan membela meraka namun malah menajadi bagian dari yang
mendzolimi mereka.
Disitu
saya memutuskan untuk berhenti dari perusahaan, namun bagaimanapun. Saya tetap
mengucapkan terimakasih atas pengalaman dan nilai kehidupan yang diberikan pada
saya, saya berharap kelak dapat kembali lagi kesana namun bukan sebagai
karyawan namun sebagai seorang lawyer
yang membantu masyarakat disana dalam mengambil hak hak mereka.
Saya
berhenti dikesimpulan bahwa korporasi baik itu pertambangan, perkebunan kelapa
sawit dan lain sebagainya memang kerap mendzolimi karyawan dan warga di sekitar
namun mereka juga memberi manfaat secara akses jalan, sinyal, dan pekerjaan,
yang diperlukan hari ini adalah mencari titik saling menguntungkan antara
pemilik dan buruh buruh disana.


