Rabu, 08 Mei 2019

Sekelumit Asa di Kebun Sawit

0 comments


Kita tak pernah tau kemana hidup mengantar kita ke tempat tempat yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya, Per lulus kuliah saya memutuskan untuk belum lanjut kuliah di S-2 walaupun kedua orang tua memaksa, sederhana sebetulnya saya ingin mencoba hidup dengan hasil keringat saya sendiri merasakan pahit manisnya kehidupan paling tidak setahun ini, cerita soal itu akan saya tulis di lain lapak, khusus tulisan ini saya ingin membahas soal sawit dan korporasinya.

Sebagai lulusan yang memiliki nilai yang cukup lumayan, beberapa perusahaan yang memiliki hubungan dengan kampus menawarkan kerja di perusahaanya, dimulai dari perusahaan Finance, Asuransi hingga Perkebunan sawit, sedari sadar saya memang tak ingin dan tak berminta bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang keuangan baik itu bank, asuransi, leasing, dan lain sebagainya, tapi saya cukup tertarik di perkebunan sawit, tawaran itu datang dari PT. Wilmar Internasional sebuah perusahaan Singapur yang bergerak dibidang perkebunan juga perminyakan salah satu perusahaan minyak raksasa di asia tenggara.

Panggilan itu datang lewat Telfon dibulan September 2018, saya berdasarkan rekomendasi kampus menjadi salah satu lulusan yang di panggil diperusahaan itu, interview pun terjadi, beberapa soal berkaitan dengan hukum dan perundang undangan cukup mampu saya jawab, sedari UU BPJS, UU Ketenagakerjaan, UU Penyelesaian Industrial, Dll.

Akhirnya percakapan-pun sampai pada penempatan, mereka membutuhkan PGA (Personalia General Affair) di PT. ANI sebuah perkebunan Diwilayah Pahuman, Kab. Landak, Mendengar penempatan saya cukup ragu, prihal ibadah dan makan yang sulit, karna saya tau Pahuman adalah wilayah yang 90% berpenduduk Non muslim, berdasarkan pertimbangan tersebut saya menyatakan tidak siap di tempatkan disana.

Waktu kembali berlalu, Desember 2018, saya mendapatkan panggilan di sebuah perusahaan korea PT. Sintang Raya (Miwon Group) dengan posisi yang sama sebagai PGA, pola interview hampir sama kemudian pembicaraan sampai pada penempatan, saya di tempatkan di Olak Olak Kubu, Kab. Kubu Raya, Karna penasaran saya yang cukup tinggi terhadap perusahaan sawit, saya terima pekerjaan itu dan dibuatkan jadwal untuk berangkat kesana bersama beberapa karyawan reqrutan lainya.

Senin pagi, Saya (PGA), Mbak Lia (MT), Bang Kayong (Traksi), Pak jawa (Asisten Kebun) kami semua adalah karyawan baru yang akan diberangkatkan ke kebun, menggunakan mobil dari kantor menuju pelabuhan Rasau Jaya, disana kami sudah di sambut perwakilan dari perusahaan dengan sebuah speedboat berbendera Korea selatan dan Indonesia, kira kira persiapan setengah jam dan kemudian kami di berangkatkan dengan speedboat dari pelabuhan rasau jaya langung ke perusahaan yang ada di olak olak kubu, menyenangkan bagi saya yang tak pernah menggunakan speedboat.


Kira kira satu jam perjalanan kami telah sampai di perusahaan, wajah perkebunan sawit mulai terlihat truk truk besar dan kapal kapal membawa buah buah sawit mulai tampak, gersang dan debu menyelimuti jalan jalan, serta sinyal internet yang hilang.

Turun dari speedoat, bertemu dengan pak syarif (keamanan) di wilayah perusahaan tersebut, iseng saya bertanya berapa banyak keamanan yang ada di perusahaan, beliau menjawab sekitar 400 personil, wah angka yang sangat besar untuk sebuah perusahaan, selang kemudian kami diantar ke sebuah mess penyambutan untuk makan siang terlebih dahulu dan sholat duhur di mushola dekat situ, makanan yang di sediakan menurut saya sangat sangat nikmat, ikan goreng, sayur asam, sambel dan kerupuk di tambah kami sedang lapar laparnya membuat makan kami sangat lahap, selepas sholat duhur kami masih menunggu mobil menjemput kami membawa ke tempat kami yang berbeda beda, karna kami berempat memang tidak di satu wilayah.

Sebelum berlanjut urutan cerita, saya akan jelaskan sedikit prihal struktur denah perusahaan, kantor yang ada di Pontianak bernama kantor HO, sedang kantor utama atau kantor wilayah ada di PKS di perkebunan, di bawah kantor perkebunan ada kantor estate, dan di PT. Sintang Raya memiliki 4 wilayah estate, (Ole, Dabong, Ame, Traksi).

Nah saya di tempatkan di wilayah Ole, wilayah perkebunan paling luas dan paling banyak SDM (Sumber Daya Manusia) di perusahaan, setelah makan siang kami kemudian di jemput masing masing utusan dari kantor, mbak lia dan pak jawa di jemput oleh perwakilan PKS menggunakan Mobil, sedang bang kayong hanya tinggal jalan kaki karna rupanya mess penyambutan tak begitu jauh dari kantor traksi, sedang saya dijemput dengan motor oleh bang jawawi (Staff Gudang) di estate ole, motor verza dan megapro adalah motor yang menjadi wajib digunakan untuk oprasional kantor, 20 menit dari mess penyambutan saya sampai di kantor ole estate, diperjalanan kantor estate saya melewati kantor PKS, disana saya melihat sebuah kantor yang begitu megah dan pabrik besar dibelakangnya, saya sempat heran bagaimana mungkin bisa ada kantor sebesar ini di wilayah terpencil seperti ini.


Sampai di kantor Ole’ saya berkenalan dengan semua isi kantor, mulai dari Pak Eko Mardiono (manager), Pak Natsir Hamidun (Askeb), Pak Ari (Assdiv 1), Pak Ian (Assdiv II), Pak Putu (Assdiv III), Pak Anwar (Assdiv IV) mereka semua adalah orang orang yang bertanggungjawab atas besar kecilnya produksi di estate ole’

Sedang di bagian office, ada Pak Edi Johari (Kasie), ada mas Adri (accounting), ada saya (personalia), ada mbak titin (adm. Computer), bu desi ( adm. Keuangan), bu yanti (adm. Produksi) juga ada 4 kerani (sekertaris) dan kami semua adalah orang yang bertanggungjawab atas urusan adminitrasi, baik itu Absensi, SDM, Gaji, BPJS, Keluhan, panggilan, teguran, mutasi Dan lain sebagainya.

Setelah berkenalan dengan semua karyawan saya diantar ke mess karyawan kantor, mess yang cukup bagus bagi saya dengan banyak fasilitas yang bagus, kulkas, tv, kipas angin, bahkan untuk manager ada AC, baju kami di cucikan dan makan kami terjaga dan enak, bahkan ditiap siang selalu ada dessert seperti jus, burjo, agar agar, buah buahan dan lain lain.

Pekerjaan saya berhubungan dengan nasib banyak orang, gaji, absensi, panggilan, teguran, dan kesehatan, kerapkali saya memanggil orang, menegur, dan memperingatkan akan sanksi sanksi yang mereka terima, sebelum bekerja memang banyak suara suara memperingatkan saya untuk tidak kasar kasar dengan karyawan terutama suara suara dari karyawan rawat dan karyawan panen (karyawan bawah) tentu suara itu saya terima dengan baik, toh memang saya tidak punya bakat untuk berbuat kasar dan keras dengan orang lain.

Keraguan itu datang ketika saya membuka facebook di sela sela pekerjaan, rupanya di tahun 2016 ketika saya masih Mahasiswa saya pernah mengomentari atau lebih tepatnya mengkritik sebuah perusahaan kelapa sawit tentang kriminalisasinya terhadap warga setempat dan waktu itu memang sedang heboh hebohnya hingga menarik perhatian warga dunia akibat perampasan hak agrarian warga terhadap perusahaan, setelah saya dalami ternyata perusahaan tersebut adalah perusahaan yang saya tempati saat ini.


Disitu saya sudah merasa terbebani secara moral saya menjilat ludah saya sendiri dari mengkritik hingga menempati posisi di perusahaan tersebut, di tambah lagi cerita cerita menyedihkan karyawan karyawan yang di dzalimi perusahaan, target yang berat dan upah yang tak sesuai menjadi perbincangan hari hari, kesalahan sedikit yang kemudian mendapat sanksi yang besar, di situ posisi saya sudah merasa sangat sangat tidak enak, terutama terhadap diri saya sendiri dan beban moral yang tinggi, saya seorang sarjana hukum yang seharusnya menjadi bagian dari yang membantu dan membela meraka namun malah menajadi bagian dari yang mendzolimi mereka.

Disitu saya memutuskan untuk berhenti dari perusahaan, namun bagaimanapun. Saya tetap mengucapkan terimakasih atas pengalaman dan nilai kehidupan yang diberikan pada saya, saya berharap kelak dapat kembali lagi kesana namun bukan sebagai karyawan namun sebagai seorang lawyer yang membantu masyarakat disana dalam mengambil hak hak mereka.

Saya berhenti dikesimpulan bahwa korporasi baik itu pertambangan, perkebunan kelapa sawit dan lain sebagainya memang kerap mendzolimi karyawan dan warga di sekitar namun mereka juga memberi manfaat secara akses jalan, sinyal, dan pekerjaan, yang diperlukan hari ini adalah mencari titik saling menguntungkan antara pemilik dan buruh buruh disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar