Saya Mulai tulisan ini dengan sebuah
kisah heroik seorang mujahid “Solahudin Al Ayubbi” Rahimahullah, Solahudin Al
Ayubi ketika hendak membebaskan Al Quds, Jerusalem,
hal yang pertama beliau lakukan adalah melihat shaf sholat subuh di masjid Al Umawi
di kota damaskus, jika belum penuh, beliau tunda jihad, begitu seterusnya,
karna ketika shaf sholat subuh belum penuh sholahudin umumkan jihad pun pasti
muslimin akan kalah, ketika masjid al umawi sudah penuh sholat subuhnya maka
kekuatan kaum muslimin tak terbendung untuk kembali membuka dan merebut kota
suci alquds dari kaum kuffar, sekali lagi yang dipenuhkan adalah Masjid bukan
Stadion Gelora Bung Karno, atau Monas, karna kebangkitan kaum muslimin dimulai
dari masjid bukan dari tempat selainnya, terlebih ketika tempat itu penuh
dengan campur baur kepentingan politik yang tidak islami dan tidak syari.
Cerita selanjutnya adalah ketika
Perang Badar, Jumlah kaum muslimin hanya ada 100 sedang kaum kafir Quraisy ada
1000, namun Qadarallah Allah menangkan kaum muslimin di atas semua itu.
Kaidah pentingnya adalah kemenangan
kemenangan yang diraih oleh kaum muslimin bukan soal jumlah, kaum muslimin tak
pernah pamer akan besarnya jumlah, karna jumlah bagi kaum muslimin tidak
mencerminkan sebuah kemenangan, bagaimana hari ini kita bayangkan bahwa
Prabowo-Sandi yang notabenya di dukung oleh Ulama menempatkan kekuatan kaum
muslimin sebagai kekuatan utama di dalam perjuangan mereka merebut tampuk
kekuasaan, namun sayang kekuatan besar kaum muslimin ini tidak murni untuk
meninggikan Agama Allah terlalu banyak kepentingan kepentingan lain diluar dari
kepentingan umat, ada tokoh tokoh yang bergabung tidak dengan dasar keinginan
mereka.
Bukankah perjuangan islam tidak
didasarkan pada kebenciaan, namun harus dengan keyakinan akan kebenaran yang
digengam, terlalu banyak kepentingan diluar dari kepentingan kepentingan umat
islam disana, ditambah kubu petahana sedari awal berusaha menggerus arus
masyarakat islam yang menumpuk di kubu Prabowo dengan menjadikan K.H. Maruf
Amin sebagai Wakil Presiden, dan Playmaker lainya seperti Tuan Guru Bajang,
Ust. Yusuf Mansur, Ngabalin, Prof. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Muhammad Mahfud
MD dan Juga bebrapa ustad dan tokoh agama lainya,
Secara dasar kekuatan prabowo memang
bertumpuk di kekuatan umat, namun tokoh tokoh yang muncul dan punya kepentingan
tidak sepenuhnya mewakili suara umat islam, sebagaimana Contoh : Ratna
Sarumpaet, Lieus Sungkharisma, dan banyak lagi tokoh tokoh yang mendukung
prabowo hanya karna kebencian terhadap Petahana.
Saya sama sekali tidak meragukan
kapasitas dan kezuhudan serta kemuklisan seorang Muhammad Riziq Syihab sebagai
ulama yang benar benar tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri kecuali
kepentingan umat, ada Ustadz Bachtiar Natsir yang serupa zuhudnya, namun ustadz
ustadz yang kita akui memiliki kapasitas yang lebih untuk bicara mewakili suara
umat, yang sering muncul adalah ulama yang mohon maaf terlalu terlihat
politisinya daripada keulamaanya.
Menurut saya dua factor ini kenapa
kemenangan masih jauh panggang dari api, pertama adalah koalisi prabowo terlalu
banyak kepentingan, kedua timses prabowo terlihat tidak mewakili suara umat
islam.
