Minggu, 26 Mei 2019

GNPF, Gerakan Penjaga Kepentingan Politik Prabowo (Kritik GNPF dan BPN Prabowo-Sandi)

0 comments


Saya Mulai tulisan ini dengan sebuah kisah heroik seorang mujahid “Solahudin Al Ayubbi” Rahimahullah, Solahudin Al Ayubi ketika hendak membebaskan Al Quds, Jerusalem, hal yang pertama beliau lakukan adalah melihat shaf sholat subuh di masjid Al Umawi di kota damaskus, jika belum penuh, beliau tunda jihad, begitu seterusnya, karna ketika shaf sholat subuh belum penuh sholahudin umumkan jihad pun pasti muslimin akan kalah, ketika masjid al umawi sudah penuh sholat subuhnya maka kekuatan kaum muslimin tak terbendung untuk kembali membuka dan merebut kota suci alquds dari kaum kuffar, sekali lagi yang dipenuhkan adalah Masjid bukan Stadion Gelora Bung Karno, atau Monas, karna kebangkitan kaum muslimin dimulai dari masjid bukan dari tempat selainnya, terlebih ketika tempat itu penuh dengan campur baur kepentingan politik yang tidak islami dan tidak syari.

Cerita selanjutnya adalah ketika Perang Badar, Jumlah kaum muslimin hanya ada 100 sedang kaum kafir Quraisy ada 1000, namun Qadarallah Allah menangkan kaum muslimin di atas semua itu.

Kaidah pentingnya adalah kemenangan kemenangan yang diraih oleh kaum muslimin bukan soal jumlah, kaum muslimin tak pernah pamer akan besarnya jumlah, karna jumlah bagi kaum muslimin tidak mencerminkan sebuah kemenangan, bagaimana hari ini kita bayangkan bahwa Prabowo-Sandi yang notabenya di dukung oleh Ulama menempatkan kekuatan kaum muslimin sebagai kekuatan utama di dalam perjuangan mereka merebut tampuk kekuasaan, namun sayang kekuatan besar kaum muslimin ini tidak murni untuk meninggikan Agama Allah terlalu banyak kepentingan kepentingan lain diluar dari kepentingan umat, ada tokoh tokoh yang bergabung tidak dengan dasar keinginan mereka.

Bukankah perjuangan islam tidak didasarkan pada kebenciaan, namun harus dengan keyakinan akan kebenaran yang digengam, terlalu banyak kepentingan diluar dari kepentingan kepentingan umat islam disana, ditambah kubu petahana sedari awal berusaha menggerus arus masyarakat islam yang menumpuk di kubu Prabowo dengan menjadikan K.H. Maruf Amin sebagai Wakil Presiden, dan Playmaker lainya seperti Tuan Guru Bajang, Ust. Yusuf Mansur, Ngabalin, Prof. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Muhammad Mahfud MD dan Juga bebrapa ustad dan tokoh agama lainya,
Secara dasar kekuatan prabowo memang bertumpuk di kekuatan umat, namun tokoh tokoh yang muncul dan punya kepentingan tidak sepenuhnya mewakili suara umat islam, sebagaimana Contoh : Ratna Sarumpaet, Lieus Sungkharisma, dan banyak lagi tokoh tokoh yang mendukung prabowo hanya karna kebencian terhadap Petahana.

Saya sama sekali tidak meragukan kapasitas dan kezuhudan serta kemuklisan seorang Muhammad Riziq Syihab sebagai ulama yang benar benar tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri kecuali kepentingan umat, ada Ustadz Bachtiar Natsir yang serupa zuhudnya, namun ustadz ustadz yang kita akui memiliki kapasitas yang lebih untuk bicara mewakili suara umat, yang sering muncul adalah ulama yang mohon maaf terlalu terlihat politisinya daripada keulamaanya.

Menurut saya dua factor ini kenapa kemenangan masih jauh panggang dari api, pertama adalah koalisi prabowo terlalu banyak kepentingan, kedua timses prabowo terlihat tidak mewakili suara umat islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar