Ada yang menarik
bagiku di hari kartini kemarin 20 April 2020, ketika banyak yang mengutip surat
surat dari RA. Kartini atau kutipan yang berasal dari memoarnya untuk dijadikan
postingan di akun akun media sosialnya termasuk kutipan yang di posting oleh
presiden JOKOWI yang dikritik oleh sejarahawan JJ. RIZAL bahwa yang presiden
kutip itu tidak konstekstual dan sesuai dengan keadaanya, terlepas dari itu
semua.
Sebuah akun yang
memposting sebuah foto yang mensejajarkan Kartini dan Marsinah dengan logo
bahwa Marsinah jauh lebih kompeten untuk menjadi icon utama sebagai gerakan
kebangkitan perempuan atas hak haknya, jiwa kritisku pun perlahan memuncak,
selain kutau bahwa akun yang memposting ini adalah akun dari kaum pergerakan
yang menyebut mereka gerakan anarki atau sering kali diplesetkan oleh netizen
sebagai menjadi gerakan “Anarkiyyun”
gerakan yang sebenarnya bertujuan sangat baik dan mulia dan sangat memanusiakan
manusia, konsentrasi pergrakan ini adalah terhdap kaum kaum terpinggirkan,
marjinal, buruh buruh upah murah, dan lain sebagainya.
** Dimulai dari **
** Kemudian saya
merespon **
** Kemudian dia
membalas lagi **
** Saya jawab lagi
dan langsung dijawab **
** Dan terakhir
saya membalas **
Balasan dan tulisan
saya di retweet banyak sekali oleh netizen, hampir semua brupa dukungan dan
bukan cacian, kemudian akun ini tidak lagi membalas tweet saya.
Yang menarik
bagi saya sebenarnya adalah bahwa kaum anarki kerap kali menampilkan pahlawan
versi mereka adalah pahlawan yang berasal dari kalangan bawah, nama nama tokoh
yang paling sering mereka jual sbagai bagaian dari kampanye ideologi mereka
adalah Marsinah, Wiji Thukul, Salim Kancil, tentu sebagai orang yang mengerti
tentang keadaan dan kondisi negri ini kita menghargai dan meenghormati sembari
terus mendoakan dan melanjutkan perjuangan mereka namun bukan berarti orang
orang yang tidak proletar kemudian dianggap tidak memiliki konstribusi
sebagaimana kita tahu bahwa kartini adalah perempuan yang berasal dari kalangan
bangsawan atau bahasa ilmiahnya “Feodal monarki”
kita memang hidup di era kejahatan korporasi namun praktik kapitalisme hari ini
adalah praktik kapitalisme yang terstruktur dan pintar kita tidak bisa
membeedakan orang hanya berdasarkan kelompok borjuis dan proletar, upah yang
diberikan kapitalisme hari ini sudah dianggap cukup adil, walau memang dampak
dari korporasi ini masih memberi mudharat bagi sebagian kalangan dan lingkungan
namun melawan kapitalisme dengan pengkotak kotakkan adalah salah dan sia sia.






Mantap jiwa
BalasHapus