Oleh : Immada Ichsani.,S.H.,M.H.
Prof. Haedar Natshir
ketua PP Muhammadiyah di dalam pidato kebangsaanya menyampaikan sebuah kalimat
yang ia kutip dari Ki Bagus Hadikusumo kala itu di dalam forum BPUPKI yang
mengatakan bahwa “Kekusutan bangsa lahir dari pemimpin yang tamak dan
mementingkan kepentinganya sendiri” sebuah kalimat yang tidak
sederhana apabila kita sandingkan dengan keadaan Indonesia hari ini, founding
father semacam ki bagus hadikusumo menyadari bahwa hanya keikhlasanlah yang
dapat membangun sebuah negeri.
Soekarno, hatta, sjahrir tidak memilih jalan
menyenangkan ia memilih jalan terjal yang penuh dengan penderitaan, bagaimana
sulitnya bung karno dipenjara sukamiskin dan dibuang di ende juga Bengkulu jauh
dari kekuatan politiknya dan diawasi selalu oleh pemerintahan belanda, hatta
dan sjahrir mendapat hal serupa jauh dibuang ke banda naira dan boven diguel
merasakan pahitnya penderitaan Bersama ratusan tahanan lainya.
Dalam catatan sejarah manusia manusia diatas adalah
manusia manusia yang ikhlas berjuang untuk kebaikan negaranya ia tak pernah
berfikir untuk memperkaya dirinya, kroni dan keluarganya melanggengkan
kekuasaan untuk anak anaknya mereka percaya bahwa kemerdekaan nasional adalah
sesuatu yang harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh.
Kisah tentang bung hatta yang tak mampu membeli
sepatu bally menjadi pembelajaran besar buat kita seorang pejuang, tokoh
nasional, pernah menjadi wapres pertama, perdana mentri dll namun harus menahan
Hasrat diri untuk dapat membeli sepatu bally yang ia idamkan hanya mampu
memegang brosurnya hingga ia wafat.
Lihatlah bagaimana presiden hari ini dengan penuh
kemewahan menikmati semua fasilitas negara dengan kekuasaanya ia memberikan
gunung, lautan, isi kekayaan alam kepada pengusaha tak jelas keberpihakanya
pada rakyat, hatta yang tak pernah menggunakan fasilitas negara untuk keperluan
keluarga sedang Jokowi memberikan semua fasilitas politiknya untuk anak dan
keluarganya.
Yang menarik sebaliknya bagaimana mungkin Jokowi
bicara soal IKN itu adalah lambang perlawanan pada jawasentris sedang seluruh
pejabat pejabat yang ia angkat berbasis pada kedekatanya sewaktu di solo, Hadi
Tjahyato, Mayjend Widi Prasetijono, Jendral Agus Subiyanto, Jendral Listyo
Sigit Prabowo, Irjend Ahmad Lutfi, Nana Sujana belum lagi soal Gibran,
boby dan kaesang yang sebetulnya malah mengambarkan Jokowi bukan presiden
Indonesia tapi raja raja jawa saja.
Dalam refleksi kali ini penuh dengan kemarahan
tentang apa yang terjadi dengan pemerintahan Indonesia selama hampir satu
dekade ini.
Semoga Indonesia kita Bersama ini semakin baik
kedepan.
Memaknai 17 Agustus 2024
