Jumat, 16 Agustus 2024

MEREFLEKSI KEMERDEKAAN : Antara Ketamakan dan Keikhlasan

0 comments

 Oleh : Immada Ichsani.,S.H.,M.H.


Prof. Haedar Natshir ketua PP Muhammadiyah di dalam pidato kebangsaanya menyampaikan sebuah kalimat yang ia kutip dari Ki Bagus Hadikusumo kala itu di dalam forum BPUPKI yang mengatakan bahwa “Kekusutan bangsa lahir dari pemimpin yang tamak dan mementingkan kepentinganya sendiri” sebuah kalimat yang tidak sederhana apabila kita sandingkan dengan keadaan Indonesia hari ini, founding father semacam ki bagus hadikusumo menyadari bahwa hanya keikhlasanlah yang dapat membangun sebuah negeri.

 

Soekarno, hatta, sjahrir tidak memilih jalan menyenangkan ia memilih jalan terjal yang penuh dengan penderitaan, bagaimana sulitnya bung karno dipenjara sukamiskin dan dibuang di ende juga Bengkulu jauh dari kekuatan politiknya dan diawasi selalu oleh pemerintahan belanda, hatta dan sjahrir mendapat hal serupa jauh dibuang ke banda naira dan boven diguel merasakan pahitnya penderitaan Bersama ratusan tahanan lainya.

 

Dalam catatan sejarah manusia manusia diatas adalah manusia manusia yang ikhlas berjuang untuk kebaikan negaranya ia tak pernah berfikir untuk memperkaya dirinya, kroni dan keluarganya melanggengkan kekuasaan untuk anak anaknya mereka percaya bahwa kemerdekaan nasional adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh.

 

Kisah tentang bung hatta yang tak mampu membeli sepatu bally menjadi pembelajaran besar buat kita seorang pejuang, tokoh nasional, pernah menjadi wapres pertama, perdana mentri dll namun harus menahan Hasrat diri untuk dapat membeli sepatu bally yang ia idamkan hanya mampu memegang brosurnya hingga ia wafat.

Lihatlah bagaimana presiden hari ini dengan penuh kemewahan menikmati semua fasilitas negara dengan kekuasaanya ia memberikan gunung, lautan, isi kekayaan alam kepada pengusaha tak jelas keberpihakanya pada rakyat, hatta yang tak pernah menggunakan fasilitas negara untuk keperluan keluarga sedang Jokowi memberikan semua fasilitas politiknya untuk anak dan keluarganya.

 

Yang menarik sebaliknya bagaimana mungkin Jokowi bicara soal IKN itu adalah lambang perlawanan pada jawasentris sedang seluruh pejabat pejabat yang ia angkat berbasis pada kedekatanya sewaktu di solo, Hadi Tjahyato, Mayjend Widi Prasetijono, Jendral Agus Subiyanto, Jendral Listyo Sigit Prabowo, Irjend Ahmad Lutfi, Nana Sujana belum lagi soal Gibran, boby dan kaesang yang sebetulnya malah mengambarkan Jokowi bukan presiden Indonesia tapi raja raja jawa saja.

 

Dalam refleksi kali ini penuh dengan kemarahan tentang apa yang terjadi dengan pemerintahan Indonesia selama hampir satu dekade ini.

 

Semoga Indonesia kita Bersama ini semakin baik kedepan.

Memaknai 17 Agustus 2024

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar